shoot..utk surat kabar
reBlog: Kota Yang (ke)Sepi(an)
Diposting oleh
adam.ikhya
di
09.38
Senin, 03 Maret 2014
pagi ini ada yg ngechat..sahabat saya waktu SMA..skrg dia jadi arsitektur di UGM..nahdi chat sebuah artikel unik menarik dan penuh filosofi..yg ingin saya reBlog biar dibaca banyak orang.. ini karangan mas Andika Saputra...
Mohon izin ya mas buat reBlog..ini bagus bgt trutama utk saya sebagai mahasiswa teknik lingkungan..smoga bermanfaat
Diposkan oleh
Andika Saputra
di
10:31 AM
Mohon izin ya mas buat reBlog..ini bagus bgt trutama utk saya sebagai mahasiswa teknik lingkungan..smoga bermanfaat
Kota yang sepi. Kenapa?
Kota yang ditinggalkan masyarakatnya. Kemana?
Tak kemana. Ia hanya dicerai ruang terbuka.
Kota yang kesepian.
Sebab hal ihwal
perceraian kota dengan ruang terbuka tak ingin aku ungkap di artikel ini
toh bukan rahasia lagi bahkan banyak pihak saling tuding. Maksud ingin
menghilangkan pilu, kota mencari pasangan baru. Mencoba menjalin
hubungan dekat dengan Mall, awalnya berjalan baik tapi harus berakhir di
tengah jalan karena keegoisannya menjadikan kota hanya sebatas obyek
perasan. Kota yang tak ingin putus asa mencoba kembali menjalin hubungan
mesra, kali ini dengan bangunan perkantoran yang menjulang hingga ke
langit. Tapi lagi-lagi harus menahan pahitnya hinaan karena begitu
sombongnya menjadikan kota direndahkan serendah-rendahnya. Kota yang
kembali sendiri, tanpa hak asuh anak menjadikannya sepi.
Dalam artikel ini
aku ingin berbincang tentang ruang terbuka yang kini menjanda. Yang dari
rahimnya lahir masyarakat yang memasyarakat, yang diasupinya dengan
udara dan diajarinya menjalin rajutan pengalaman dalam ruang bersama.
Ruang terbuka adalah ibu bagi masyarakat yang berkelanjutan, pasangan
terbaik baik kota yang ingin tampak muda hingga seabad kedepan. Sungguh
tah habis pikir berbagai konflik dan intrik yang dipaksakan untuk
memisahkan keduanya dan merusak keharmonisan keluarga kota. Katanya demi
kehidupan yang lebih baik, walaupun tahu tak ada perceraian membawa
kebaikan. Karena itu dalam artikel ini pun aku ingin berbincang tentang
kota yang (ke)sepi(an).
Setiap perceraian pasti menghadirkan korban; anak-anak hasil pernikahan
yang harus mengalami trauma sepanjang angan. Masyarakat kota, korban
dari perceraian kedua orang tua yang (tak) dikehendaki. Masyarakat yang
dahulu memasyarakat kini tercerai berai menjadi (sekedar) orang-orang.
Tak lagi dalam identitas keluarga. Di-panti asuhan-kan dalam penjagaan
ibu asuh yang asing tapi melenakan. Tentu dalam artikel ini pun aku
ingin berbincang tentang masyarakat kota yang mulai kehilangan ingatan
atas ayah dan ibu. Anak yang di-yatim-kan dan di-piatu-kan oleh pihak
ketiga yang sedang (mulai) lupa akan usul dan asalnya.
Rustan Hakim, seorang ahli arsitektur landskap mengkategorisasikan ruang
terbuka menjadi ruang terbuka pasif dan ruang terbuka aktif. Mudahnya,
ruang terbuka pasif memiliki fungsi ekologis sedangkan ruang terbuka
aktif memiliki fungsi sosial. Dampak tersingkirnya bahkan menghilangnya
ruang terbuka pasif dalam suatu kota akibat tergerus perkembangan yang
tak beradab menyebabkan munculnya berbagai bencana alam. Banjir salah
satunya yang telah akrab dan rutin datang setiap tahun di musim
penghujan karena tak tersedia ruang bagi air untuk kembali ke dalam
tanah. Lalu masyarakat pun harus diungsikan.
Kota yang awalnya riuh dengan berbagai aktivitas mendadak sunyi senyap
ditinggal masyarakat yang mengungsi dan termenung sedih di tempat
pengungsiannya. Kota yang kesepian, begitu pula masyarakatnya.
Dampak yang lebih mengerikan dari tersingkirnya ruang terbuka pasif
disaksikan langsung oleh Ibnu Khaldun –semoga Allah merahmatinya- di
Kota Fez yang mewakili daerah maghrib dan Kota Mesir yang mewakili
daerah masyriq pada abad 14 masehi. Hilangnya ruang terbuka pasif akibat
pembangunan fisik yang pesat tak terkontrol menjadikan kota hidup tanpa
kemampuan menghasilkan udara bersih. Kepadatan kota yang tinggi dengan
berbagai wujud keangkuhan arsitekturnya tak dapat menjadi penolong
masyarakatnya dari kualitas udara yang buruk sehingga mudah berkembang
berbagai wabah penyakit yang berakhir dengan angka kematian yang
tinggi.
Aku kutipkan nasihat dari Ibnu Khaldun –semoga Allah merahmatinya- agar semoga dapat diambil pelajaran,
“Angka kematian di kota-kota yang dipenuhi bangunan seperti Mesir di masyriq dan Fez di maghrib lebih banyak dibandingkan di tempat lainnya”.
“Penyebab banyaknya bau busuk dan kelembaban yang membahayakan adalah banyaknya dan sempurnanya pembangunan”.
“Berjangkitnya wabah biasanya disebabkan oleh rusaknya udara akibat banyaknya pembangunan yang membuat banyak hal bercampur, baik bau busuk maupun kelembaban yang berbahaya”.
“Jelaslah hikmah pentingnya ruang terbuka dan gurun yang tak berair di antara bangunan-bangunan. Ini sebuah keharusan agar udara dapat leluasa silih berganti menghilangkan kerusakan dan kebusukan yang terdapat di udara sehingga dapat mendatangkan udara yang sehat”.
Kematian warga yang serempak dan tak berkesudahan menjadikan kota
semakin sepi dan akhirnya seorang diri. Kota (bagi orang) mati.
Tak terhitung dampak ekologis akan muncul seiring rusaknya ruang terbuka
pasif, pun tak sedikit dampak sosial akan muncul sering menghilangnya
ruang terbuka aktif. Ruang terbuka aktif adalah ruang bertemu bagi warga
kota, ruang berjumpa, ruang bercengkerama bersama, ruang berbagi kasih
dan pandangan, atau sekedar ruang untuk menikmati terbenamnya matahari
di ufuk sambil menikmati segelas teh hangat ditemani sebuah buku.
Bagaikan denyut nadi, ruang terbuka aktif memastikan jantung kota terus
berdenyut. Memutus nadinya sama saja mengakhiri riwayatnya.
Kita harus jujur kualitas dan kuantitas ruang terbuka aktif di berbagai
kota memang semakin menyedihkan. Pembangunan fisik yang hanya bertujuan
ekonomi menumbuh suburkan praktek komersialisasi ruang. Ruang-ruang tak
bernilai rupiah pun harus menyingkir, kemudian dipetakkan sebagai obyek
komoditas. Alasan tingginya harga lahan menjadi pembenaran untuk
membangun semaksimal mungkin tanpa menyisakan sejengkal pun ruang
terbuka atas nama untung rugi materi. Bagi developer perumahan tentu
jauh lebih menggiurkan memaksimalkan penambahan unit rumah yang dapat
menghasilkan keuntungan dibandingkan menyediakan lahan ruang bersama
bagi warganya.
“Ini bisnis bung, bukan pergerakan sosial. Apalagi pergerakan melawan pasar!”
Wabah penyakit akibat hilangnya ruang terbuka aktif telah mencemari
udara bahkan tanpa disadari telah banyak korban berjatuhan. Wabah
penyakit yang tak terdeteksi bahkan tak dirasakan gejalanya.
Mark Slouka mencoba mendeteksi penyakit akibat hilangnya ruang terbuka
aktif di tengah komunitas masyarakat kota yang disebutnya dengan
penyakit ‘kembali ke rumah’. Realitas yang dianggap telah rusak dan
tercemar di sisi lain teknologi yang menawarkan kemampuan mengkonstruksi
realitas maya yang ideal menjadikan warga kota lebih memilih untuk
berada di dalam ruang-ruang pribadinya; rumah. Ketiadaan ruang bersama
untuk saling bertegur sapa dan bercanda tergantikan dengan aktivitas
chatting di sosial media, menikmati tontonan televisi dengan berbagai
program penjelajahan alamnya yang entah berada di planet mana, atau
menghabiskan waktu mendengarkan lagu sambil mengingat-ingat kenangan
berkumpul bersama di pojok taman kota yang kini menjadi alas apartemen
kalangan elit.
Yasraf Amir Piliang telah jauh-jauh hari mengingatkan agar berhati-hati
dengan kehadiran teknologi cyber yang dianggap oleh pecandunya mampu
menggantikan ruang terbuka aktif di alam fisik dan dipercaya mampu
menghadirkan realitas yang sempurna tanpa cacat dan penyakit.
Perlahan-lahan warga kota akan kehilangan rasa kepemilikan terhadap
ruang bersama dalam alam fisik. Tak ada lagi rasa perhatian apalagi
keterikatan, bahkan tak mau tahu akan keberadaannya karena telah
menemukan alam yang lain. Alam yang baru kata Allucquere Rosanne Stone.
Betapa jauh jarak antara pecandu dunia maya dengan realitas sebenarnya,
kata Slouka, sehingga berbagai aktivitas bersama yang sederhana di ruang
terbuka bagaikan aktivitas yang menjemukan milik masyarakat romantisme
yang tidak lagi relevan di zaman teknologi digital saat ini atau
aktivitas yang eksotis milik masyarakat tribal yang hanya dapat ditemui
di pelosok dunia yang tak mampu dijangkau oleh citraan satelit. Pun
sudah kita temui generasi baru yang begitu bergairahnya bermain sepak
bola di depan layar monitor dibandingkan menendang bola di tengah
lapang, karena memang kini lapang telah menjadi sempit dan tentu saja
teknologi menawarkan solusi permainan sepak bola tanpa cedera, keringat,
dan nafas yang tersenggal-senggal. Dan yang terpenting tanpa perlu
tanah lapang. Munculnya fenomena tersebut memancing Gregory Stock untuk
menggerutu,
“Sudah tak mengherankan apabila keterkaitan emosional antara manusia dengan lingkungan alamiahnya kini semakin rapuh. Suatu bagian pengalaman manusia yang kini semakin berkembang malah terjadi di alam yang sama sekali berbeda (realitas maya -pen)”
Paul Virilio mungkin akan tersenyum lebar seiring bermunculan
fakta-fakta yang menguatkan tesisnya bahwa arsitektur telah mati karena
masyarakat tak lagi peduli dengan dimensi fisik ruang di alam relitas.
Terhanyut di dalam ruang arsitektur maya. Kehidupan kota ‘di luar’
menjadi sepi karena ramainya berpindah ‘ke dalam’.
Warga kota yang merasa nyaman berada di dalam ruang-ruang pribadinya
menjadikan kota seketika sepi. Denyutnya sangat lemah. Sebab hilangnya
warga kota bukan mengungsi karena bencana alam, bukan pula bergeletakan
menjadi mayat karena wabah penyakit, tapi warganya tengah sibuk berada
di dunia baru yang tanpa bencana alam dan tanpa wabah penyakit yang
mematikan. Kota yang diacuhkan warganya memang kota yang (ke)sepi(an).
*****
Menggunakan logika berpikir Mark Slouka aku ingin mengatakan, adalah
kewarasan yang sederhana bagi kita untuk terikat dengan realitas fisik.
Sejauh mana kesadaran dan keterikatan kita terhadapnya, sejauh itu pula
kepedulian kita untuk menjaga hubungan yang harmonis antara kota dan
ruang terbuka. Kata banyak orang, hanya anak yang dapat menjaga
kebersamaan kedua orang tuanya. Tentu hanya jika kita berkeinginan untuk
menjaga keutuhan keluarga. Keluarga kota yang berkelanjutan.
Akhirnya, wallahu a’lam bishawab.
Ditulis oleh Andika Saputra
Bertempat di Yogyakarta pada Jumadil Awal 1435 Hijrah Nabi
Demistifikasi Persepsi Masyarakat dalam Menghadapi Bencana
Diposting oleh
adam.ikhya
di
07.39
Kamis, 06 Februari 2014
PUSAT STUDI PERUBAHAN IKLIM DAN KEBENCANAAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
oleh :
Adam Ikhya Alfarokhi / 12513134 / PuSPIK UII
Bencana alam sering menelan korban.
Salah satu penyebab bencana alam justru bersumber dari ulah manusia. Pertama,
manusia justru merusak ekosistem alam sehingga bencana justru menerpanya,
misalnya manusia melakukan penggundulan hutan sehingga berakibat terjadinya
banjir. Kedua, manusia kurang waspada sehingga tidak melakukan mitigasi sedini
mungkin. Ketiga, manusia mulai hidup dalam alam modernitas sehingga menyepelekan
kearifan lokal yang telah dikembangkan oleh masyarakat lokal untuk beradaptasi
dengan alam dan kehidupan bersama. Kearifan lokal itu berfungsi sebagai semacam
alat mitigasi untuk mengurangi resiko atas terjadinya bencana. Sebaliknya,
manusia kemudian masa kini hanya percaya kepada pengetahuan dan teknologi
modern walaupun ternyata tidak mudah diaplikasikan karena adanya hambatan SDM,
birokrasi, dan sumber daya keuangan serta benturan dengan budaya dan masyarakat
yang masih kuat memegang prinsip kearifna lokal.
Demistifikasi yang berkaitan dengan
mitos-mitos yang berkembang di masyarakat menurut Barthes adalah fungsi dari
mitologis yang berlawanan dengan mitos-mitos pembuat, adalah untuk melawan
mitos dengan mengekspos apa yang dilihat sebagai delusi atau kebohongan.
Membuka mata publik untuk fakta bahwa apa yang mungkin muncul “tidak bersalah”
dan “wajar”nadalah sebagian besar hasil dari distorsi dan misinterpretasi yang
termotivasi oleh ideologi.
Sebagai contoh yang dijelaskan oleh
Prof.Dr.Ir. Dwikorita dalam seminarnya, setiap terjadi gempa bumi di suatu
daerah selalu dikaitkan dengan kemunculan awan gempa (yaitu awan cirrus) yang
keberadaannya disebut-sebut sebagai tanda akan terjadinya gempa. Analisis
menjelaskan bahwa belum ada bukti yang kuat mengenai hal tersebut, kemunculan
awan cirrus masih berupa hipotesis dan masih dianggap kebetulan saja namun
mitos yang berkembang di masyarakat seolah-olah mendoktri bagi siapa saja yang
mendengar mitos tersebut menjadi percaya. Awan gempa yang di liat oleh sekelompok
orang disuatu kawasan yang terjadi gempa tidak dapat memberikan kesimpulan
bahwa setiap munculnya awan cirrus tersebut akan terjadi gempa. Keberadaan awan
tersebut yang diliat oleh orang satu dengan orang yang lainnya dengan perbedaan
lokasi yang cukup jauh, belum tentu membuktikan bahwa awan tersebut adalah awan
yang sama.
Mitos yang mudah berkembang membuat
masyarakat juga mudah tersesat dengan kepercayaan yang belum terbukti secara
ilmiah. Prof.Dr.Ir Dwikorita mengibaratkan hal lain adalah dengan kejadian yang
dimisalkan “ketika Pak SBY dan istri sedang berpidato lalu ada seribu orang
yang mendengarkan kemudia terjadi gempa bumi, maka akankah dapat disimpulkan
bahwa setiap Pak SBY dan istri sedang berpidato dan disaksikan oleh seribu
orang maka itu adalah tanda akan terjadinya gempa?”. Oleh karena itu
Demistifikasi persepsi masyarakat sangat diperlukan dalam mensikapi terjadinya
bencana alam.
Dari uraian tersebut dapat ditarik akar
permasalahannya yaitu :
1.
Belum
dipahaminya fenomena yang terjadi sebenarnya adalah fenomena apa
2.
Apa yang harus
dilakukan ketika terjadi fenomena tersebut
3.
Bagaimana
mensikapi fenomena tersebut dengan tepat. (menghindar,mencegah, dan
beradaptasi)
Dari akar permasalahan tersebut terdapat
GAP yang menghambat proses penyelesaiannya, diantaranya adalah
1.
Problem Sosial
dan Teknis :
(a)
Akses masyarakat
masih terhalang pada hasil riset
(b)
Pemahaman dan
kapasitas masyarakat dan pemerintah
(c)
Kondisi sosial
kultural-ekonomi
2.
Kolaborasi
akademi-komunitas-pemerintah-industri
Oleh karena itu beberapa upaya
demistifikasi dapat dilakukan dengan cara riset, edukasi, penguatan spiritual,
dan kolaborai semua pihak yang terkait.
Indonesia berada pada tempat yang
terkena dampak proses geologi yang dapat merugikan manusia. Sehingga
“mitigasi”nadalah upaya untuk mensikapinya.
Mitigasi merupakan salah satu rangkaian
kegiatan penanggulangan bencana alam yang berlangsung dalam kondisi
pra-bencana. Kegiatan mitigasi itu meliputi pencegahan dan pengurangan resiko
bencana, baik yang berdifat kultural maupun yang berdifat teknokratis. Dalam
kehidupan sehari-hari orang Merapi (warga yang tinggal disekitar Gunung Merapi)
yang terkelompok dalam komunitas-komunitas dusun sepertinya tidak memiliki
aktivitas mitigasi. Memang tanpa melakukan observasi dan kontak intensif dengan
warga, maka akan sulit dijumpai adanya berbagai bentuk mitigasi berdasarkan
perspektif lokal. Hal ini karena kegiatan mitigasinya dapat dikatakan melebur
menjadi satu satuan kegiatan hidup sehari-hari di sektor pertania, peternakan,
pembangunan rumah dan sarana fisik, dan ritual keagamaan.
Dalam kenyataannya, orang merapi
memiliki strategi mitigasi yang relatif dapat diandalkan sebagai instrumen
untuk beradaptasi dengan bencana. Mereka seperti orang Jawa pada umumnya sangat
kuat mengembangkan tema budaya dahulukan selamat dalam meniti kehidupan yang
lekat dengan bahaya disekitarnya bila tidak diantisipasi. Oleh karena itu,
mereka mengembangkan berbagai strategi agar keselamatna itu diraih sekalipun
hidup di Merapi yang terus aktif.
Pengurangan resiko bencana dalam
perspektif orang Merapi melalui kegiatan mitigasi dilakukan melalui empat
elemen mitigasi yaitu:
1.
Peningkatan
Kepekaan Batin
2.
Melakukan Ritual
Keagamaan
3.
Pengaturan Tata
Ruang, dan Penerapan Teknologi Tepat Guna
4.
Responsifnya
warga terhafapt mitra; Program Pemerintah dan LSM
Penguatan kearifan lokal itu identik
dengan penignkatan partisipasi masyarakat. Memberikan kepercayaan kepada
masyarakat untuk mengembangkan kearifan lokal seperti mempertajam religiositas,
kedekatan dengan alam, gotong royong, dan berbagai ekspresi solidaritas sosial
justru lebih penting daripada memperkuat peran pemerintah sehingga meruntuhkan
ketahanan masyakarakat terhadap bencana.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah
bahwa berkembangnya mitos di masyarakat sebaiknya segera dibuktikan dengan
riset yang kemudia setelah terbukti untuk segera dipublis kemasyarakat agar
tersebarkan kebenarannya sehigga diharapkan tidak menjadi sebuah penyesatan
untuk masyarkat. Dan untuk hal-hal yang belum terbukti kebenarannya sebaiknya
dijaga agar tidak dibesar-besarkan yang dapat berdampak negatif dikemudian
hari.
water intec 2014
Diposting oleh
adam.ikhya
di
09.02
Kamis, 30 Januari 2014
awal nya mau bikin acara ini itu adalah dhawuh dari pak kajur.. "dam cari org org sing rodo nggenah..bkin acara ini..bla bla bla? kata beliau.. aku sih ok ok ajah..
tapi karena aku ingin mbangunin ini si HMTL..yg lagi tidur nyenyak sulit bgt buat bangun..makanya aku ngajak HMTL buat ngembangin ini acara
tpii krn hrus berjuang.. gk papa lah..di PHP in sama ini HM slama 2bulan..dgn alasan macem macem macem lah..
oke oke..desember 2013 adalah awal mula persiapan.. disni kami beberapa org dr 2012 dan 2011 mulai ngrangkum garis besar acara..dan mulai nyari BARA BARA BERE konco kentel sak angkatan buat nyuksesin acara ini yg notabene jadi steping stone buat TL..
bnyk skali kendala nya.. dari mulai konflik internal dgn temen baikku yg slalu mau mbantuin aku..yg sampe skrg masih ngambek (29 01 2014).. sampe dgn hanya karena masalah ngundang rapat dadakan.. itu freak bgt men..shiiit
intinya adalah..jgn sampe mmbuat tmn tmn itu merasa trbebani..tpi hambuh iki sampe mau firstmeet aja gk beres beres ttg ini.. uda dingetin tiap hari jgn dadakan..ntah ngapa ada apa mbuh ngopo kok ya tetep aja H-1 lebih dkit baru grusa grusu..
kita smua punya tanggungan kesibukan masing2..tpi klo bisa manage waktu dgn baik..insyaAlloh juga gk akan ngrugiin org lain..
sama satu hal lagi.. kudu sembodo ya.. ngundang suruh ontime..tpi klo ngundang nya dadakan itu sembodo gk? (pikir lah sndiri)
tapi utkku..yg masih mbuat kepikiran ini ttg tmn baikku ini..dia masih ngambek karena gagal liburan bareng bareng yg kurang baik perencanaannya.. iyaa aku ngaku salah kok maaf bgt yaaa T.T
diposisiku itu sulit bgt..you know kan kak? iya you know me so well about this process.. we have to "nggetih" if we want our college better.. and if we want proud with ou TL
emm aku masih bnyk hutang sama kmu lho kak..ntar ya aku saur satu satu..dan slalu ingetin aku :3
utk firsmeet ntar jam 16.30 di ruang 1/2... (knapa gk siang aja? alasan gk ada kelas? uda di cek di pengajaran belom? msook gk ada 1 kelas pun yg bisa di pake? klo gk dikelas pa gk bisa po? org tmn tmn aja pada pengen di hall..silir enak kok.. kan kampus itu utk kegiatan mahasiswa.. di buka dari jam 6 pagi sampe jam 10 mlm.. knapa slalu milih sore sore teruuus sampe malm? alasan masih ada yg ujian? kan kita mau rapat aja..kondusif mmperhatikan.. bukan mau bkin horok horok bukan mau bkin panggung di innercourt utk JOGET JOGET..
aku uda mkir panjang..acara kita september..brrti itu wktu yg 2012 smster 5..yg 2011 smster 7..inget sibuk nya kyk apa? trus kalo awal nya gk mau nggetih gk mau brkorban ..ntar gmn dkt dkt acara? yakin kalian masih komitmen? klo yakin sih oke oke saja.. tp inget alasan klo "yg 2011 masih nubes ini itu bla bla bla" di awal awal gini..gmn besok h-1bulan? gmnaaa? inget meen paling enggk kita harus punya financial 150juta utk aman.. duit dari mana itu klo sampe detik aku nulis ini proposal gk rampung rampung..dulu pas jd pnitia lilin..disuruh bisa mikir cepet dalam tekanan... aku di pressing sama tmn tmn sama senior.. skrg di kegiatan yg lbih besar dan lebih profesional hrusnya kepake ituu.. mana buktinya? klo memang gk kepake..ngapain dulu LILIn di gituin? fak men.. itu namanya nyengkuyung ra sembodo kakean lambe raono gawe.. dumeh lewih sikik mlebu.. rung mesti lewih becik lan lewih apik..kudu eling kuwi..
to be continued until i get the result from firstmeet all member this event..
tapi karena aku ingin mbangunin ini si HMTL..yg lagi tidur nyenyak sulit bgt buat bangun..makanya aku ngajak HMTL buat ngembangin ini acara
tpii krn hrus berjuang.. gk papa lah..di PHP in sama ini HM slama 2bulan..dgn alasan macem macem macem lah..
oke oke..desember 2013 adalah awal mula persiapan.. disni kami beberapa org dr 2012 dan 2011 mulai ngrangkum garis besar acara..dan mulai nyari BARA BARA BERE konco kentel sak angkatan buat nyuksesin acara ini yg notabene jadi steping stone buat TL..
bnyk skali kendala nya.. dari mulai konflik internal dgn temen baikku yg slalu mau mbantuin aku..yg sampe skrg masih ngambek (29 01 2014).. sampe dgn hanya karena masalah ngundang rapat dadakan.. itu freak bgt men..shiiit
intinya adalah..jgn sampe mmbuat tmn tmn itu merasa trbebani..tpi hambuh iki sampe mau firstmeet aja gk beres beres ttg ini.. uda dingetin tiap hari jgn dadakan..ntah ngapa ada apa mbuh ngopo kok ya tetep aja H-1 lebih dkit baru grusa grusu..
kita smua punya tanggungan kesibukan masing2..tpi klo bisa manage waktu dgn baik..insyaAlloh juga gk akan ngrugiin org lain..
sama satu hal lagi.. kudu sembodo ya.. ngundang suruh ontime..tpi klo ngundang nya dadakan itu sembodo gk? (pikir lah sndiri)
tapi utkku..yg masih mbuat kepikiran ini ttg tmn baikku ini..dia masih ngambek karena gagal liburan bareng bareng yg kurang baik perencanaannya.. iyaa aku ngaku salah kok maaf bgt yaaa T.T
diposisiku itu sulit bgt..you know kan kak? iya you know me so well about this process.. we have to "nggetih" if we want our college better.. and if we want proud with ou TL
emm aku masih bnyk hutang sama kmu lho kak..ntar ya aku saur satu satu..dan slalu ingetin aku :3
utk firsmeet ntar jam 16.30 di ruang 1/2... (knapa gk siang aja? alasan gk ada kelas? uda di cek di pengajaran belom? msook gk ada 1 kelas pun yg bisa di pake? klo gk dikelas pa gk bisa po? org tmn tmn aja pada pengen di hall..silir enak kok.. kan kampus itu utk kegiatan mahasiswa.. di buka dari jam 6 pagi sampe jam 10 mlm.. knapa slalu milih sore sore teruuus sampe malm? alasan masih ada yg ujian? kan kita mau rapat aja..kondusif mmperhatikan.. bukan mau bkin horok horok bukan mau bkin panggung di innercourt utk JOGET JOGET..
aku uda mkir panjang..acara kita september..brrti itu wktu yg 2012 smster 5..yg 2011 smster 7..inget sibuk nya kyk apa? trus kalo awal nya gk mau nggetih gk mau brkorban ..ntar gmn dkt dkt acara? yakin kalian masih komitmen? klo yakin sih oke oke saja.. tp inget alasan klo "yg 2011 masih nubes ini itu bla bla bla" di awal awal gini..gmn besok h-1bulan? gmnaaa? inget meen paling enggk kita harus punya financial 150juta utk aman.. duit dari mana itu klo sampe detik aku nulis ini proposal gk rampung rampung..dulu pas jd pnitia lilin..disuruh bisa mikir cepet dalam tekanan... aku di pressing sama tmn tmn sama senior.. skrg di kegiatan yg lbih besar dan lebih profesional hrusnya kepake ituu.. mana buktinya? klo memang gk kepake..ngapain dulu LILIn di gituin? fak men.. itu namanya nyengkuyung ra sembodo kakean lambe raono gawe.. dumeh lewih sikik mlebu.. rung mesti lewih becik lan lewih apik..kudu eling kuwi..
to be continued until i get the result from firstmeet all member this event..
HARMONI HIJAU 2013 ==> Enviro For Kidz
Diposting oleh
adam.ikhya
di
21.44
Sabtu, 28 Desember 2013
cerita Harmoni Hijau nya malah lupa..emm ntar aja di gabung sekalian sama WaterINTEC2014 yaa..sabar.. coming soon :3
tapi ini ku kasih foto foto Harmoni Hijau 2013 kemaren..
Coincides with World Environment Day on 5 June, Center for Climate Change and Disaster (PusPIK) UII with Environmental Engineering UII held an event which invites children from surrounding elementary schools and kindergarten.
At least two hundreds children were participated during the event. They excitedly competed in the drawing and coloring competition which held to commemorate the World Environment Day.
Chief organizer, Ahmad Sabrin told it is the first time that his department and PusPIK UII to hold such event.
“Through this event, we hope can encourage and appeal children to love their environment by doing real action”, Ahmad added.
According to the juries, Nasya Alifta Sani (TKN 1 Sleman) won the first prize, followed by Silvia Khairunnisa (TKIT Sinar Melati), and then Bareta Zahra Farenza (TK ABA Karangharjo) in the coloring contest. While for the drawing competition, first prize was attained by Nasywa Azzah (SD Cempokojajar), followed by Zahra Aisyah (SD Muhammadiyah Pakem), and then Nadinda Anisa Dewi (SDN Gambiranom) as third winner.
by: Adam Ikhya Alfarokhi
coming soon..
Diposting oleh
adam.ikhya
di
23.52
Selasa, 16 Juli 2013
NTAR HBIS UAS SELESEI AKU MAU CERITA TENTANG HARMONI HIJAU UII..SEMUANYA..DARI AWAL SAMPE LPJ SELESAI..DILIAT DARI POSISI KU YG DIAMANAHI JADI STEERING COMITTE..
Langganan:
Postingan (Atom)
blog ini menurutku?
Total Pageviews
celoteh mu
Popular Posts
-
Page ini kami dedikasikan langsung untuk teman kami Ega Zulfa Rahcita, kawan kami,saudara kami keluarga kami..MPK OBTB dan Keluarga Teladan...
-
PUSAT STUDI PERUBAHAN IKLIM DAN KEBENCANAAN UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA oleh : Adam Ikhya Alfarokhi / 12513134 / PuSPIK UII ...
-
Minggu 26 April 2015, Mahasiswa Teknik lingkungan UII sukses membuat gebrakan dengan melaksanakan penanaman 1000 pohon mangrove d...
-
cerita Harmoni Hijau nya malah lupa..emm ntar aja di gabung sekalian sama WaterINTEC2014 yaa..sabar.. coming soon :3 tapi ini ku kasi...
-
alhmdulillah..semalem dua malem dicicil akhirnya selese juga ini tugas posternya..ojo di jiplak..ini uda copyrigth haha...tinggal di kumpul ...
-
Keaktifan mahasiswa UII dalam berbagai even positif baik di tingkat nasional maupun internasional memang tidak diragu...
-
AMANAT KASAL LAKSAMANA TNI DR. MARSETIO PADA UPACARA PERINGATAN HARI ULANG TAHUN KE-69 KEMERDEKAAAN RI TAHUN 2014 TANGGAL 17 AGUS...
-
REPORT Laboratory Works on Development of Absorbent Hokkaido University Arrange by : Adam Ikhya Alfarokhi ...
Diberdayakan oleh Blogger.










